← Semua artikel

Ekonomi Gunungkidul Tumbuh. Seberapa Besar Peran Pariwisata?

· Infowisata.id Editorial Team · ~5 menit baca

Ekonomi Gunungkidul tumbuh 5,47% pada 2025, tetapi pariwisata hanya satu bagian dari ekonomi daerah yang beragam. Inilah yang dapat dan tidak dapat dikatakan data ekonomi terbaru tentang kontribusi pariwisata.

Kawasan wisata pesisir di Gunungkidul dengan usaha lokal dan pengunjung di dekat pantai.

Kisah pertumbuhan Gunungkidul lebih besar daripada pariwisata

Pariwisata menjadi bagian yang terlihat dari kisah pembangunan Gunungkidul. Pengunjung datang untuk pantai, gua, perbukitan, dan atraksi lain di kabupaten ini; usaha menjual makanan, transportasi, penginapan, tiket, dan suvenir di sekitar perjalanan itu. Namun destinasi yang ramai tidak sama dengan ekonomi yang diubah oleh pariwisata. Untuk memahami skala peran pariwisata, kita perlu mulai dari ekonomi yang lebih luas, bukan dari jumlah pengunjung saja.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekonomi Gunungkidul tumbuh 5,47% pada 2025, meningkat 0,66 poin persentase dari 2024. Produk domestik regional bruto (PDRB) kabupaten atas dasar harga berlaku mencapai Rp 28,87 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp 17,41 triliun. Keduanya ukuran yang berbeda: PDRB harga berlaku mencerminkan nilai produksi pada harga periode tersebut, sedangkan PDRB harga konstan dirancang untuk melacak perubahan output riil setelah disesuaikan dengan perubahan harga. Keduanya tidak boleh dibandingkan seolah dua perkiraan untuk hal yang sama.

Angka-angka ini berasal dari rilis BPS Kabupaten Gunungkidul tentang publikasi PDRB menurut lapangan usaha 2021-2025, terbit 6 April 2026. Lihat rilis resmi BPS (opens in a new tab) dan publikasi PDRB 2021-2025 (opens in a new tab).

Pelajaran pertama sederhana: pertumbuhan ekonomi nyata dan terukur, tetapi ia tidak dengan sendirinya memberi tahu sektor mana yang menyebabkan pertumbuhan, seberapa besar bagiannya berasal dari pengunjung, atau seberapa merata hasilnya dibagi.

Pariwisata beroperasi di dalam sistem ekonomi yang lebih luas

Pada 2025, pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 25,32% PDRB Gunungkidul atas dasar harga berlaku, menurut rilis BPS yang sama. Perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi kendaraan bermotor, menyumbang 8,80%, sedangkan informasi dan komunikasi menyumbang 8,63%. Angka-angka ini menempatkan pariwisata dalam konteks: ekonomi kabupaten jauh melampaui pariwisata, dan kelompok lapangan usaha terbesarnya yang dilaporkan tetap pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Pariwisata juga tidak dapat dipisahkan dengan rapi hanya dengan melihat satu baris dalam neraca industri standar. Pengunjung mungkin membayar kamar, makanan, bahan bakar, pemandu, perjalanan perahu, atau suvenir. Pembelian itu tercatat di berbagai lapangan usaha. Sementara itu, usaha akomodasi juga melayani pelanggan non-wisata, restoran menjual kepada warga, dan pengecer melayani pengunjung maupun rumah tangga setempat. Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum karena itu relevan bagi pariwisata, tetapi bukan ukuran lengkap kontribusi total pariwisata.

Akun ekonomi khusus pariwisata pada prinsipnya dapat menghubungkan permintaan pengunjung dengan industri yang memasoknya. Tanpa akun satelit pariwisata yang transparan atau perkiraan lokal yang terdokumentasi jelas, menyesatkan bila menetapkan seluruh nilai satu industri luas sebagai milik pariwisata, atau mengklaim bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan pengunjung menjadi pendapatan lokal.

Tiga ukuran menjawab tiga pertanyaan berbeda

Pembahasan yang berguna tentang pariwisata dan kemakmuran lokal memisahkan setidaknya tiga indikator.

1. Output ekonomi. PDRB mengukur nilai tambah yang dihasilkan unit produksi residen di dalam daerah. Ia berguna untuk memahami skala dan arah ekonomi, tetapi tidak identik dengan pendapatan rumah tangga, laba usaha, penerimaan pajak, atau jumlah uang yang beredar di sebuah destinasi.

2. Permintaan pengunjung. Jumlah pengunjung, perkiraan belanja, dan lama tinggal menggambarkan kegiatan pariwisata. Semuanya membantu menjelaskan pasar yang dapat dilayani usaha lokal. Tetapi hitungan kedatangan tidak menunjukkan berapa belanja tiap pengunjung, produk apa yang dibeli, apakah usahanya milik warga, atau biaya apa yang ditimbulkan kunjungan itu.

3. Pembagian manfaat. Upah, kepemilikan usaha, pengadaan dari pemasok lokal, pendapatan rumah tangga, dan mutu pekerjaan membantu menetapkan siapa yang mendapat untung dari pariwisata. Indikator-indikator ini lebih dekat dengan pertanyaan praktis warga: apakah pariwisata menciptakan peluang yang andal bagi orang yang tinggal di sini?

Tidak ada satu indikator pun yang dapat menggantikan yang lain. Output yang lebih tinggi bisa berdampingan dengan distribusi pendapatan yang timpang. Lebih banyak pengunjung dapat menguntungkan sebagian usaha lebih banyak daripada yang lain. Belanja per kunjungan yang lebih tinggi bisa mencerminkan harga, komposisi pengunjung, atau rancangan survei, bukan peningkatan kesejahteraan lokal yang menyeluruh.

Apa yang didukung data saat ini dan apa yang dibiarkan terbuka

Angka BPS mendukung kesimpulan bahwa ekonomi riil Gunungkidul berkembang pada 2025 dan bahwa pertanian, perdagangan, serta informasi dan komunikasi tetap bagian penting struktur produksinya. Pariwisata masuk akal terhubung dengan beberapa kegiatan itu, terutama perdagangan eceran, jasa makanan, transportasi, dan akomodasi. Hubungan itu mekanisme ekonomi, bukan perkiraan terkuantifikasi tentang porsi pariwisata dalam pertumbuhan.

Data itu tidak menetapkan bahwa pariwisata sendiri yang mendorong laju pertumbuhan 5,47%. Ia juga tidak menunjukkan bahwa hasilnya sampai ke semua desa, pekerja, atau kelompok pendapatan rumah tangga. Klaim itu membutuhkan perubahan tingkat sektor dari waktu ke waktu, bukti permintaan pengunjung, dan informasi tentang ketenagakerjaan, upah, kepemilikan, pembelian dari pemasok, dan hasil bagi rumah tangga.

Untuk penilaian lokal yang lebih kuat, pembuat kebijakan dan peneliti sebaiknya menerbitkan dasbor pariwisata yang berulang dengan definisi konsisten: jumlah pengunjung per destinasi dan periode; metode yang dipakai untuk memperkirakan belanja; tingkat hunian akomodasi dan lama tinggal; ketenagakerjaan dan upah terkait pariwisata; porsi pengadaan yang bersumber dari usaha Gunungkidul; penerimaan publik dan biaya layanan; dan indikator lingkungan yang relevan. Dasbor itu harus menunjukkan metodologi dan revisinya agar angka dapat dibandingkan dari tahun ke tahun.

Mengapa pariwisata penting bagi ekonomi lokal

Pariwisata dapat memperluas pasar bagi usaha kecil, menciptakan pekerjaan, dan menambah permintaan produk lokal. Ia juga dapat memusatkan kegiatan di tempat atau musim tertentu, menambah tekanan pada infrastruktur, dan meninggalkan sebagian pemasok dengan daya tawar kecil. Pola mana yang dominan bergantung pada cara usaha membeli, merekrut, berinvestasi, dan mengelola dampak pengunjung, serta pada jumlah kedatangan.

Standar keberhasilan yang praktis karena itu harus menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan bukti tentang retensi dan distribusi lokal. Apakah sektor ini membeli lebih banyak dari peternakan, perikanan, dan manufaktur kecil setempat? Apakah pekerjaannya cukup stabil untuk menopang rumah tangga di luar masa puncak? Apakah penerimaan publik dapat menutup biaya infrastruktur dan pengelolaan yang terkait pengunjung? Apakah masyarakat tetap memiliki akses yang berarti terhadap sumber daya yang menjadi tumpuan mata pencaharian mereka?

Angka pertumbuhan Gunungkidul 2025 adalah titik awal yang penting. Langkah berikutnya adalah mengikuti uang dari permintaan pengunjung ke output, upah, pendapatan usaha, layanan publik, dan masyarakat yang menanggung biaya serta menerima manfaat.

Sumber yang dirujuk